Majumapannews BANJARNEGARA – Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Disperindagkop UKM) Kabupaten Banjarnegara terus mendorong pelaku UMKM agar mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman melalui Pelatihan Digital Marketing yang diselenggarakan selama dua hari (13–14 April 2026), di Gedung PLUT Banjarnegara.
Pelatihan diikuti oleh 30 peserta, baik yang telah memiliki usaha maupun yang baru merintis. Selama pelatihan, peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga langsung praktik memanfaatkan teknologi digital untuk mengembangkan usaha mereka.
*Strategi digital berbasis AI*
Kepala Disperindagkop UKM Kabupaten Banjarnegara, Drs. Adi Cahyono PS MM, dalam arahannya menyampaikan pentingnya pelaku UMKM untuk terus belajar dan bertransformasi di era digital.
“UMKM hari ini tidak cukup hanya mengandalkan cara-cara konvensional. Harus berani beradaptasi dengan teknologi digital, karena di situlah peluang pasar terbuka luas. Dengan digital marketing, produk lokal kita bisa menjangkau pasar yang lebih besar,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, ia berharap para pelaku UMKM di Banjarnegara mampu meningkatkan daya saing, memperluas jangkauan pasar, serta memanfaatkan teknologi digital secara optimal untuk mendukung pertumbuhan usaha mereka. Ia juga mendorong agar semua pelaku usaha dan UMKM untuk berani naik kelas, melalui peningkatan kualitas produk, kemasan, dan cara pemasaran
“Jangan sekadar berjualan, tapi bangun usaha yang punya nilai tambah. Kalau dikelola dengan baik, UMKM bisa menjadi kekuatan ekonomi daerah,” tambahnya.
*jangan berhenti di level pedagang *
Pelatihan ini menghadirkan praktisi yang kompeten di bidangnya, yakni Mukhlis, ST selaku CEO Semut Animation dan Heri Setiawan, S.Pd MM, CEO Arwaly Group, dengan moderator Havid Arifin.
Salah satu narasumber, Heri Setiawan dalam pemaparannya menekankan pentingnya pemahaman konsep Cashflow Quadrant dalam menjalankan bisnis. Menurutnya, banyak usaha tutup bukan karena rugi, melainkan karena kehabisan arus kas.
“Bisnis itu bukan hanya soal untung rugi di atas kertas. Banyak yang secara laporan untung, tapi tidak punya uang tunai untuk operasional. Maka yang harus dijaga adalah cashflow,” jelas Heri.
Ia menyebutkan bahwa bisnis yang sehat setidaknya memiliki lima indikator utama, yakni aset, penjualan (sale), keuntungan (profit), arus kas (cash), dan arus kas bebas (free cash).
Lebih lanjut, Heri memotivasi para pelaku UMKM untuk tidak berhenti di level pedagang semata.
“Bisnis harus naik kelas. Jangan hanya dinikmati sendiri, tapi juga memberi manfaat bagi orang lain. Bangun diri, keluarga, bisnis, sekaligus kontribusi untuk agama dan bangsa,” pesannya.
Selain itu, tim Semut Animation juga banyak memberikan materi tentang motivasi kewirausahaan, dasar-dasar digital marketing, hingga praktik membuat branding produk dan konten penjualan berbasis teknologi kecerdasan buatan (AI).
Salah satu peserta bernama Nur dari Kesenet Kecamatan Banjarmangu, senang mengikuti pelatihan yang telah membuka wawasan baru baginya.
“Saya jadi tahu bagaimana memasarkan produk secara digital, termasuk membuat konten yang menarik. Selama ini wawasan dan jualan masih sederhana, sekarang jadi lebih percaya diri untuk mengembangkan usaha,” ungkapnya.*** (kominfo).

Social Header