Majumapannews MAGELANG – Suasana yang seharusnya penuh khidmat menjelang Idul Fitri berubah menjadi bara konflik. Ratusan warga Desa Bateh, Kecamatan Candimulyo, Kabupaten Magelang, menggeruduk balai desa pada Jumat pagi (30/3), menuntut kejelasan dan keadilan atas dugaan aksi penganiayaan yang terjadi saat malam takbiran.
Insiden bermula dari rombongan pemuda asal Ngowah yang berkeliling membangunkan sahur. Namun, aktivitas tersebut diduga dilakukan dengan cara yang meresahkan—menggunakan sepeda motor berknalpot brong, menyalakan petasan, hingga disertai konsumsi minuman keras.
Ketegangan memuncak saat salah satu pemuda Dusun Nglampu menegur rombongan tersebut di sebuah lokasi penjualan bensin. Teguran itu justru memicu adu mulut panas yang berujung pada aksi kekerasan.
Akibat kejadian itu, sejumlah pemuda Nglampu mengalami luka di bagian pelipis dan pipi, bahkan harus menjalani visum di RS Merah Putih. Warga pun geram, menilai tindakan tersebut sudah melampaui batas kewajaran.
“Yang kami sesalkan bukan sekadar membangunkan sahur, tapi caranya yang berlebihan dan meresahkan,” ungkap salah satu warga dengan nada kecewa.
Amarah warga tak terbendung. Pagi harinya, ratusan massa mendatangi balai desa, mendesak aparat dan pemerintah setempat untuk bertindak tegas serta memberikan keadilan bagi para korban.
Menanggapi situasi tersebut, aparat kepolisian dan TNI bersama pemerintah desa bergerak cepat melakukan mediasi. Kapolsek Candimulyo AKP Abdul Wachid bersama Danramil 10/0705 turun langsung ke lokasi guna meredam ketegangan dan mempertemukan kedua belah pihak. Namun, mediasi awal belum membuahkan kesepakatan.
Kepala Desa Bateh, Daryoko, mengimbau semua pihak untuk menahan diri dan mengedepankan penyelesaian secara kekeluargaan. Sementara itu, pihak kepolisian menegaskan komitmennya untuk menangani kasus ini secara profesional, dengan membuka peluang penyelesaian melalui restorative justice tanpa mengabaikan fakta hukum di lapangan.
Perwakilan Forkombes, Agung Libas, turut menyoroti pentingnya transparansi dalam penanganan kasus ini agar tidak memicu konflik berkepanjangan di tengah masyarakat.
Di sisi lain, warga Nglampu tetap bersikukuh menuntut pertanggungjawaban atas luka yang dialami korban. Kepala Dusun Nglampu, Landung Subuchi, menegaskan bahwa hak-hak korban harus menjadi prioritas.
Sementara itu, sedikitnya 10 pemuda dari kelompok Ngowah yang diduga terlibat telah diamankan oleh Polresta Magelang untuk menjalani pemeriksaan intensif. Hingga kini, status hukum para terduga pelaku masih dalam proses pendalaman.
Situasi berangsur kondusif, namun bara emosi masih terasa. Proses mediasi terus berjalan, dengan harapan konflik dapat segera mereda dan tidak berkembang menjadi perpecahan yang lebih luas di tengah masyarakat.(yusu)

Social Header